Langsung ke konten utama

Dear God



Hujan sore ini mengingatkanku tentang hidupku, derasnya tumpah ruah di sepanjang sungai, sebagian menyebar ke jalan, sebagian lagi terserap bumi. Jika ku analogikan ke dunia nyataku, hujan ibarat liku-liku hidup yang kujalani selama 28 tahun ini. Adakalanya gerimis yang sering membuatku merasa takjub, adakalanya deras, adapula deras lengkap dengan petirnya bahkan hujan badai sekalipun. Siklus hujan memang menggambarkan siklus hidup manusia, suka – duka – suka  kemudian duka lagi,  menurut pemikiran subjektifku begitu.
Kali ini yang terasa seperti sedang ada hujan badai dihidupku. Selepas kepergian Mama, seperti hari-hari biasanya selama 3 bulan terakhir sebagian besar waktu kuhabiskan di jalan, mencoba membuktikan diri bahwa aku bisa melawan kejamnya hidup. Ke kantor pos setiap ahir pekan untuk melihat info lowongan perkerjaan baru sampai menghabiskan waktu berjam-jam di warnet hanya untuk mencari info lowongan kerja dan mengirimkan berkas lamaran, juga bertandang ke tempat kawan-kawan yang sudah bekerja untuk mengumpulkan info siapa tahu di tempat kerja mereka ada lowongan. Berstatus pengangguran memang membawa efek sosial yang menyebalkan. Kondisi seperti ini benar-benar memacuku untuk pantang menyerah. Aku yakin Engkau tahu betul aku bukanlah orang yang mudah menyerah, apapun akan kuperjuangkan hingga aku benar-benar tak sanggup lagi. Tapi terbiasa bekerja dan hidup mandiri walaupun dengan keadaan pas-pasan sejak kuliah dan sekarang harus hidup di perantauan tanpa pekerjaan benar-benar membuatku frustasi. Kalau kuhitung hampir ada 30 berkas lamaran yang kukirimkan, interview sana interview sini tapi hasilnya zero. Apa yang salah dengan nasibku Tuhan?
Seharian aku mengantarkan langsung berkas lamaran ke empat tempat sekaligus. Terbakar terik matahari dan bermandikan keringat mengelilingi sudut-sudut Jogjakarta, tak apalah toh sudah terbiasa. Ini perjuanganku, dan aku menerimanya bahwa ini realitas yang harus kuhadapi, bukan begitu Tuhan?
Saat perjalanan pulang tak sengaja aku bertemu dengan kawan lama semasa kuliah di pinggiran jalan, sudah lama sekali kami tak bertemu, dia kawan baikku. Aku mengajakknya ngopi di Paku Alaman, kami berbagi cerita tentang hidup di bawah pohon beringin sambil menikmati kopi yang kami pesan. Berbatang-batang rokok sudah kami habiskan. Rupanya hidupnya tak jauh beda denganku saat ini, jadi penganggur. Semakin banyak pengganggur di Indonesia yang tak tertampung lapangan pekerjaan. Setiap tahun Perguruan Tinggi mengeluarkan pemuda-pemudi dengan gelar sarjana, dan calon pengangguran baru bertambah. Menurutku ini ironis sekali.
          Dari cerita yang kami bagi, satu hal yang semakin membuatku yakin apapun bisa berhasil jika ada doa dan ikhtiar untuk meraih dan mewujudkan tujuan hidup. Bersakit-sakit dahulu baru bersenang-senang kemudian. Sepanjang perjalanan pulang kembali hujan deras mengguyur tubuhku dibalik mantel yang kukenakan. Bukannya cepat-cepat aku mengendarai motorku, malah berjalan pelan dengan kecepatan 30km/jam. Kuputusan untuk menikmati hujan sebagai anugerah dengan memaknai hidupku selama 28 tahun ini.
Dear God.... Surat ini secara khusus kutujukan untukMu Sang Penciptaku. Harusnya aku lebih banyak bersyukur daripada mengeluh, mengeluh tak menghasilkan apapun. 

“PS. Dan terima kasih untuk segala ujian berat yang Kau berikan 28 tahun ini, itu mejadikanku perempuan tegar”.

         


Komentar

  1. hujan memang jadi bagian hidup manusia, dan tak jarang yang menjadikan hujan sebagai simbolisasi peristiwa atau analogi. tapi kaitannya dengan ceritamu, yah aku sependapat memang mengeluh tak kan menghasilkan apapun. u'll never move on just stuck on ur ground.
    semangat! kudoakan kau secepatnya mendapatan pekerjaan.

    BalasHapus
  2. hemm.. hujan ya. hujan dan hidup = sinergi

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

MELANKOLI PAPUA

mulai meranggas kau kini di hamparan tanah papua ribuan batang tumbang menyibak hijaunya hutan menyumbang terik menyengat kulit pekerja peluh keringat mengucur manakala cangkul demi cangkul tanah terisi dalam kantung ribuan bibit sawit siap tertanam penghuni habitat tersingkir kasuari pun maleo kocar kacir mana lawan mana kawan ditengah vegetasi yang makin menipis lompatan perubahan menghampiri pribumi dengan gagap menerima tanpa tahu pasti mencipta situasi penuh elegi antara sagu atau nasi Benawa, Papua Barat 01.03.18

Mom, You’re My Angel

Kepada:  malaikatku di surga Hei Mah, apa kabar? Kuhitung sudah 78 hari 16 jam 45 menit aku tak melihatmu. Terakhir kuhitung waktu sampai detik ini, di kalimat ini. I miss you, really miss you so badly. Seandainya saja saat ini aku bisa melihatmu, tanpa banyak kata akan langsung kupeluk tubuh mungilmu Ma. Aku tau selama kita bersama aku banyak dosa, kurang ajar, sering bohong dan membuatmu sedih tapi engkau dengan sabar tetap menyayangiku dengan caramu.  I‘m sorry .  Masih segar dalam ingatanku sewaktu umurku 5tahun, setiap pulang sekolah aku langsung turun dari becak langgananku, lari menuju rumah, kulepas sepatu dan semua pakaian yang kukenakan satu per satu, tas ku biarkan saja berserak dilantai, hanya pakaian dalam yang masih menempel dibadan. Lalu dengan rengekan manja --yang kadang membuatmu jengkel sekaligus gemas-- aku minta dibuatkan susu putih hangat satu botol besar, kemudian kugeret tanganmu menuju taman depan rumah dan aku tiduran dipangkuanmu,...

SENJA BERSAMAMU

I Senja bersamamu kala matahari karam waktu itu masih terlihat jelas pada kaca air mataku seruan ombak berkejaran menuju entah seakan enggan dibuai waktu II lantas apa lagi yang kau ragu jika seluruh panji-panji sudah tertancap  tengoklah, bibir pantai senja itu berkilau berprasasti bahwa aku menyata III telah meredupkah bara yang dulu menyerbu membakar habis hingga tuntas  segala yang tiada hingga ada telah meredupkah..? IV kemarilah, duduk bersamaku di hamparan pasir dengan segelas kopi panas dan hembusan angin memandang senja keemasan di batas cakrawala kita  kan bercerita tentang nanti, berdua saja. V bayangkanlah manis, indah bukan? kita buang segala beban dan hiruk-pikuk dunia melebur rindu dalam kidung yang tercipta memadat dalam bayang kita yang menyatu Jogjakarta, 12/1/2012

Someone Like You

kepada kamu yang datang pertama di hidupku                          I heard that you settled down That you found a girl and you’re married now I heard that your dreams came true Guess she gave you things i didn’t give to you. Old friend, why are you so shy? Ain’t like you to hold back or hide from the light . (Someone Like You – Adele) Someone like you -nya Adele masih betah meyenandung. Lagu ini sudah kuputar berulang-ulang kali, entah sudah keberapa kali, ke dua puluh kali, mungkin.  Memang sengaja kubuat single playlist di mp3 playerku. Entahlah, sudah beberapa hari lagu ini –seperti sesuatu hal yang gaib- mampu menyita perhatianku. Menyeretku kembali ke masa silam, ke masa-masa suram yang membuatku gila, ke masa-masa untuk pertama kalinya aku mengenal cinta, ke masa-masa dimana aku harus berani mengambil keputusan untuk berani keluar dari be...

BAIKLAH, SEMUA AKAN TIBA PADA WAKTUNYA

baiklah, semua akan tiba pada waktunya di mana jejak kaki berhenti di persimpangan tak bernama baiklah, semua akan tiba pada waktunya di mana pundak memilih lunglai memanggul kesuraman tak berujung baiklah, semua akan tiba pada waktunya aku berucap pasrah pada kaki takdir lantas tenggelam bersama dzikir Jogjakarta, 21/2/2012