Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2011

BARA MATAHARI

Matahari bertapa Bersila di ubun – ubunku Kali mengalir dari mataku Dan bermuara di lautan Kaki terjebak dalam genangan muara Membasahi mata kaki Mendinginkan mata hati Seraut wajah membayang di balik terik matahari Tersenyum seraya mengulurkan kedua tangannya Damai memelukku erat Hangat merasuki jiwa Membara dalam tubuh yang menggigil Kembali matahari bertapa Bersemayam bara yang abadi. Adaptasi karya WS. Rendra Jogjakarta, Maret 2008

LELAH

gerimis datanglah basahi tubuhku dari peluh hujani dengan ribuan rintikmu bersihkan aku dari penat yang mencekat padamkan aku dari bara yang menggila aku.. tak sanggup lagi ! Jogjakarta, 21/8/2007

TAK KUNJUNG - KUNJUNG

tak kunjung kunjung memburam wajah itu padahal hati tak tertahankan ternyata hidup itu berat juga rasanya tak kunjung kunjung meredup api itu padahal tubuh sudah melepuh ternyata terbakar cemburu itu perih juga rasanya tak kunjung kunjung mengering luka itu padahal susah payah menyembuhkannya hingga mata, hingga mata menangis juga, menangis juga (Adaptasi karya Mathori A Elwa) Jogjakarta, 20/11/2011

KITA MARAH

kita marah dalam sebotol beer melebur bersama busa putih dingin diantara tawa kawan lama  dan parodi satir kita marah dalam kepulan asap tembakau melesat ke langit langit mimpi diantara bayang hitam putih masalalu dan masa kini Jogjakarta, 19/11/2011 (Adaptasi dari karya Mathori A Elwa)

HUJAN & KOPI

hujan membasah lagi menghapus jejak pejalan kaki yang dingin membeku dilebur bayu karenanya menjadi sendu andaikan kopi tersaji sedari tadi lengkap dengan gorengan berkali-kali hilang sudah dingin diusir kopi yang pasti kan tertuang lagi dan lagi Yogyakarta, 8/11/2011

AKU JUGA IRI

sekali ini aku iri pada kokohnya bayangan masa lalumu itu karenanya kau mematung seperti batu sekali ini aku iri pada kecanduanmu akan sosok fantasi,  layaknya Chairil memuja Ida karenanya sajak muntah dimana-mana dia memang mengagumkan dan tak ada peranku disana (Adaptasi dari puisi Aku Iri karya Minke WH) Jogjakarta 6/10/2011

SURAT UNTUK MINKE (Bag. 2)

Pertemuanku malam tadi mengesankan, tuan. Melebur bersama tawa kawan lama. Temaran lampu memadatkan binar mata, disela lenggang jalan Jogja yang membeku diguyur hujan. Sungguh, benarbenar ingin ku ajak kau serta, Menjelajah ke dalam lembaranlembarn naskah yang kukisahkan. Satu yang ingin ku tunjukkan padamu tuan. Bahwa di antara jejak langkah yang bertransformasi menjadi sejarah. Engkau takkan pernah terlewat untuk kukisahkan. Jogjakarta, 22/9/2010

SURAT UNTUK MINKE (Bag.1)

terasa begitu lama aku tak bercakap denganmu ruang luas hunian itu di mana? tapi selalu ada hiburan album foto, lagu, dan ingatan ada juga puluhan pesan singkatmu terasa begitu penat aku menunggumu duduk di atas doa di ranting ranting kering kubuka lagi puluhan pesan akhir pekanmu ngelana dalam fatamorgana (Gubahan dari karya Mathori A Elwa)  Jogjakarta, 27/02/2010

AKU PULANG IBU

Ibu.. Malam ini aku pulang Diiringi tajam angin malam Yang menusuk bulu kuduk Jangan iba ibu Seluruh angkuh sudah menjauh Terkubur dalam waktu Dan sadar sudah mendampar Di depan pintu yang kini ku ketuk Ibu.. Dosa kian merongrong Menggelapkan mata Membekukan hati Mengkakukan langkah kaki Menjerat balutan mimpi Ibu… Aku rindu belai lembut tanganmu Hembus lirih nafasmu membakar jiwaku Tatapan lembut matamu menusuk ragaku Pelukan hangatmu meluluhkanku Ibu… Aku kecil di hadapanmu Menyusut, Kian mengkerut Dan membusuk Ibu… Kata sesal keluar memaksa Tak lama…ku telan, ku telan lagi Lagi, Dan tersimpan di hati Kutuk aku Ibu ! Bunuh ! Bakar hidup – hidup ! Karena aib tetaplah aib Dan dosa tetaplah dosa Ibu.. Inginnya aku mati saja Hancur melebur tak bersisa Terkubur dalam kebohongan, kesakitan, Kemunafikan, kesesatan yang menggerogoti jiwa Ibu… Aku bertanya padamu Akankah dunia selamanya gelap, dingin, dan kosong ? Apakah dunia tak dapat bersinar tera...

MEMORI

Keliaran burung – burung di atas air Suara air bergemuruh jatuh Mengalir deras Tarian ranting – ranting pepohonan menggoda ingatanku Hembusan angin menerpa Dan menyejukkan hati Alam begitu indah Telah menyatukan hati dua manusia Gemuruh air menyisakan memori Memori panjang Memori manis. Jogjakarta, 17/8/2007

JOGJA MALAM INI

jogja malam ini cerah tak seperti malam-malam biasanya yang selalu di guyur hujan menyisakan sepi yang mendalam meninggalkan lenggang jalan jogja malam ini panas hingga membakar jantungku pula mengencangkan detak jantungku tak beraturan seakan ingin tercabut lepas dari tubuh gendut ini jogja malam ini sesak sesak yang disebabkan panas panas yang memenuhi otakku akan persepsi persepsi tolol berisikan badut-badut tak berguna aku tak suka jogja malam ini Jogjakarta, 7/2/2009

HARAPAN, SEKARAT DAN AJAL

Tuan, Di sini aku sekarat Tergeletak tanpa daya Di tengah jalan yang tak ku kenal Rupanya hanya aku di sini Di antara hamparan hutan pinus yang menjulang tinggi Dan kenapa mataku enggan melihat arah lain selain ujung jalan di sana? Apa yang ku tunggu? Kau kah itu Tuan? Ajalku sudah dekat Di atas sana berkeliaran puluhan bahkan ratusan burung Condor Berputar, mengelilingi tubuhku yang akan menjadi bangkai Teriakan mereka menyeramkan Seakan tak sabar menunggu ajalku tiba Aku tak berani berharap Tuan Memikirkannya saja tak memiliki nyali Sisa tenagaku hanya mampu untuk menangisi semua Memanggil nama mu pun terbata Maafkan aku Tuan Aku layak berada di sini Dan aku sendiri yang membawaku tergeletak di sini Jogjakarta, 15/05/2010

BERSENGGAMA DENGAN WAKTU

duduk di antara manusia-manusia asing, yang asyik-masyuk dengan dunia kotak kotak. Setiap penjuru mata memandang beragam bentuk. Lampu lampion, memancarkan cahaya temaram, ditemani alunan musik meksico yg sangat kontras. Mencoba menembus setiap dunia mereka, dunia kotak-kotak. Dunia yg sama dengan duniaku. Hening sejenak, meneguk kopi lampung yg tersaji sedari tadi. Mencoba sesuatu yg baru. Tak lagi menembus dunia kotak-kotak. Aneh, tak ada satupun yg terbaca. Kedai kopi Elpueblo YK, 26/02/2010

HARU BIRU

Saat ini bulan begitu terang dengan hamparan jutaan kilometer awan putih disekelilingnya, Memaksa mata untuk menatap lekat dan angan melayang tanpa tujuan Ragaku serasa mati dan jiwaku terombang-ambing karena haru yang membiru Jogjakarta, 16/02/2009

MEMBUNUH WAKTU

asap meluncur cepat dari bibir mengepul tinggi membelah langit langit kamar menyusuri setiap sudut ruang gelas kopi tersanding di sisi tubuh melengkapi pagi yang datang terlambat aku bersandar di dinding hijau kusam sembari tersenyum memaknai pagi yang ambigu aahh... kopi serta rokok sudah sangat cukup aku kira. Yogyakarta, 25/08/2009

BOM WAKTU

BABAK I Aku melihat sesuatu kawan, Sesuatu yang memasung batin dan logikaku Gelap dan dingin Ketika waktu berhenti berputar Bumi pun berhenti Rotasi ibaratkan gravitasi yang semu Semu akan sebuah kujujuran Haha… Aku terpenjara dalm terali dunia Dunia antah berantah Aaarrrgggghh ! Andai saja waktu kembali berputar Kembali berputar ke belakang Aku ingin terseret Terseret ke lubang waktu yang dalam Tenggelam, tenggelam, dan hilang Aku ingin hilang dan tak ditemukan BABAK II Kenapa kau tak mau berhenti ?! Kau berlari saja menyeretku ke ruang waktu yang lain Aku masih ingin di sini Di dalam ruang dan waktuku sendiri Tak kuijinkan ruang lain masuk Lancang sekali kau memaksaku untuk terus berlari Berlari lebih kencang dan lebih kencang lagi ! Tak kau lihatkah lariku terseok dan tersandung ? Tak kau ijinkan aku untuk mengaduh barang sejenak Dan menyembuhkannya sekalipun itu sedikit Tak kau lihatkah aku lelah ? Aku lelah !! Hey waktu ! Kau begitu lancang ! Dan ...

UNTITTLED

Petang hari ini sepi  Termaram lampu kemerahan menarik malam kian menepi Aku terbaring di sisi ruang Beralaskan busa tipis yang lapuk dimakan jaman Hanya terdiam dengan mata terbuka Kaku, mendengarkan suara detik jam yang selalu sama Tak lama gelisah menggerakkan tubuh Mencari sedikit jawaban akan tanya Tak adakah cahaya di balik pintu yang menembus di setiap selanya? Jogjakarta, 30/5/2008

RINDU HUJAN

akhirnya hujan tiba menyapa mendinginkan para penikmat tanpa suara, selain air menimpa bumi bergemericik bagaikan simfoni dibalik jendela sepasang mata hanya dapat mengaggumi seraya berkata "hujan, temani aku lagi" Jogjakarta, 24/10/2009

NAIK PITAM

gelap memelukku petang ini erat, seakan hendak menelan melumat habis hatiku kucari purnama tapi dia enggan datang kuhujat habis semua terang  dan kucaci malam dengan garang aku berang ! Jogjakarta, 27/9/2008

MERABAMU

bulan menghilang pergi tertelan diantara jutaan kilometer awan hitam melemah dibalik bayang-bayang raut mukamu yang kian meredup dihembus sang bayu (terinspirasi Selepas Hujan karya Riadi Manusia Biasa) Jogjakarta, 24/11/2011