Ibu..
Malam ini aku pulang
Diiringi tajam angin malam
Yang menusuk bulu kuduk
Jangan iba ibu
Seluruh angkuh sudah menjauh
Terkubur dalam waktu
Dan sadar sudah mendampar
Di depan pintu yang kini ku ketuk
Ibu..
Dosa kian merongrong
Menggelapkan mata
Membekukan hati
Mengkakukan langkah kaki
Menjerat balutan mimpi
Ibu…
Aku rindu belai lembut tanganmu
Hembus lirih nafasmu membakar jiwaku
Tatapan lembut matamu menusuk ragaku
Pelukan hangatmu meluluhkanku
Ibu…
Aku kecil di hadapanmu
Menyusut,
Kian mengkerut
Dan membusuk
Ibu…
Kata sesal keluar memaksa
Tak lama…ku telan, ku telan lagi
Lagi,
Dan tersimpan di hati
Kutuk aku Ibu !
Bunuh !
Bakar hidup – hidup !
Karena aib tetaplah aib
Dan dosa tetaplah dosa
Ibu..
Inginnya aku mati saja
Hancur melebur tak bersisa
Terkubur dalam kebohongan, kesakitan,
Kemunafikan, kesesatan yang menggerogoti jiwa
Ibu…
Aku bertanya padamu
Akankah dunia selamanya gelap, dingin, dan kosong ?
Apakah dunia tak dapat bersinar terang ?
Masih kokohkah dunia dengan keangkuhannya ?
Beritahu aku dengan hatimu
Sadarkan aku dari ketersesatanku
Guyur tubuhku dengan kebijaksanaanmu
Angkat aku dari kelumpuhanku
Aku lelah
Lelah !
Ibu…
Tubuhku masih berdiri kaku di depan pintu
Hendak masuk, terhalang ragu
Aku pulang membawa kekalahan
Dan mengharap belas kasihan
Ibu…
Wajahku hanyalah topeng usang
Hanya tertunduk tak mampu menengadah
Aku bersimpuh di kakimu
Memohon surgamu
Memohon kasih sayangmu
Pengampunanmu
Ibu…
Jika surga berada di telapak kakimu
Aku ingin bertobat
Ampuni aku…
Ampuni aku…
Amouni aku…
Jogjakarta, 17/11/2008
Note : konsep pertunjukannya actor membawakan puisinya dengan diiringi instrument gitar untuk membangun emosi dan seorang penari sebagai gesture. Fungsi gesture untuk merefleksikan kata hati actor tersebut.
Malam ini aku pulang
Diiringi tajam angin malam
Yang menusuk bulu kuduk
Jangan iba ibu
Seluruh angkuh sudah menjauh
Terkubur dalam waktu
Dan sadar sudah mendampar
Di depan pintu yang kini ku ketuk
Ibu..
Dosa kian merongrong
Menggelapkan mata
Membekukan hati
Mengkakukan langkah kaki
Menjerat balutan mimpi
Ibu…
Aku rindu belai lembut tanganmu
Hembus lirih nafasmu membakar jiwaku
Tatapan lembut matamu menusuk ragaku
Pelukan hangatmu meluluhkanku
Ibu…
Aku kecil di hadapanmu
Menyusut,
Kian mengkerut
Dan membusuk
Ibu…
Kata sesal keluar memaksa
Tak lama…ku telan, ku telan lagi
Lagi,
Dan tersimpan di hati
Kutuk aku Ibu !
Bunuh !
Bakar hidup – hidup !
Karena aib tetaplah aib
Dan dosa tetaplah dosa
Ibu..
Inginnya aku mati saja
Hancur melebur tak bersisa
Terkubur dalam kebohongan, kesakitan,
Kemunafikan, kesesatan yang menggerogoti jiwa
Ibu…
Aku bertanya padamu
Akankah dunia selamanya gelap, dingin, dan kosong ?
Apakah dunia tak dapat bersinar terang ?
Masih kokohkah dunia dengan keangkuhannya ?
Beritahu aku dengan hatimu
Sadarkan aku dari ketersesatanku
Guyur tubuhku dengan kebijaksanaanmu
Angkat aku dari kelumpuhanku
Aku lelah
Lelah !
Ibu…
Tubuhku masih berdiri kaku di depan pintu
Hendak masuk, terhalang ragu
Aku pulang membawa kekalahan
Dan mengharap belas kasihan
Ibu…
Wajahku hanyalah topeng usang
Hanya tertunduk tak mampu menengadah
Aku bersimpuh di kakimu
Memohon surgamu
Memohon kasih sayangmu
Pengampunanmu
Ibu…
Jika surga berada di telapak kakimu
Aku ingin bertobat
Ampuni aku…
Ampuni aku…
Amouni aku…
Jogjakarta, 17/11/2008
Note : konsep pertunjukannya actor membawakan puisinya dengan diiringi instrument gitar untuk membangun emosi dan seorang penari sebagai gesture. Fungsi gesture untuk merefleksikan kata hati actor tersebut.
Komentar
Posting Komentar